Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

panjikristo's corner Praedica Verbum Opportune, Importune

Picture Talk

Photo AlbumMay 5, '09 12:35 AM
for everyone
“Dalam perjalanan hidup berkeluarga, tidak pernah sekalipun saya memaksa istri untuk mengikuti agama saya. Kami tetap menjalankan kewajiban agama kami masing-masing.”

DEMIKIAN penegasan Purwanto D.W., narasumber dalam Seminar Keluarga bertema “Solusi Dini Gonjang-Ganjing Keluarga Katolik” di Gedung Yos Sudarso, Paroki St Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu, 26/4. Acara yang dimoderatori Mayong Suryo Laksono ini menghadirkan pembicara utama Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ Pastor Ignatius Tari, MSF dan dua narasumber lain Theresia Okti dan Purwanto D.W.

Kini, kelima anak Purwanto D.W. telah dibaptis secara Katolik atas anjuran istrinya. “Namun, dengan satu syarat, setiap malam saya mendampingi mereka untuk berdoa malam bersama,” jelasnya.

Menjadi Katolik

Purwanto melanjutkan, “Suatu hari, istri saya berkata, ketika ia tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam doanya, ia berdoa Bapa Kami dan Salam Maria.” Sekitar tahun 90-an, istrinya berniat menjadi Katolik dan akhirnya dibaptis. Sejak itu, masalah baru timbul. Hubungan mereka dengan saudara-saudara istrinya menjadi renggang. Namun, ketika istrinya sakit, hubungan tersebut membaik kembali.

Karena sakit, istrinya harus menjalani cuci darah selama delapan tahun. “Sejak itu, ia menjadi seorang pendoa dan pembaca Kitab Suci yang baik. Setiap malam hal itu menjadi kegiatan rutinnya hingga sehari sebelum dipanggil Tuhan, dua tahun yang lalu,” kisahnya.

Hal serupa dialami Theresia Okti. Ia mengatakan, “Walau kami berbeda agama, komitmen kepada Gereja Katolik saat menikah tetap kami jalankan, yaitu mendidik anak secara Katolik.” Hingga saat ini, suaminya tetap setia mengantarnya ke gereja. “Adakalanya ia menemani anak kami bermain di halaman saat mulai rewel. Jika di dalam ia tetap mengikuti dan mengamati ibadat yang kami lakukan. Bahkan, ia tahu siapa pastor yang berkhotbah bagus,” tuturnya.

Menanggapi hal ini, Pastor Ignatius Tari, MSF berpendapat, “Perkawinan campur baik beda agama maupun beda Gereja merupakan tantangan yang serius untuk dihadapi.” Menurutnya, Gereja sebenarnya kurang mendukung perkawinan campur karena hal ini akan menghambat seseorang berkembang dalam imannya.

Kurangi perbedaan

Jika ada dispensasi, hal itu diberikan bukan sebagai bentuk dukungan melainkan sikap pastoral Gereja dalarn situasi khusus. “Maka. diusahakan agar perkawinan campur beda agama maupun beda Gereja dihindarkan dan diusahakan agar memilih pasangan yang seiman. Jika ada perkawinan campur yang kebetulan rukun-rukun saja, kenyataan itu jangan dianggap bahwa perkawinan campur tidak bermasalah,” paparnya.

Bagi kaum muda, perbedaan agama sebaiknya digunakan sebagai pertimbangan pokok sebelum memutuskan untuk menikah. Seksi Kerasulan Keluarga Paroki sebaiknya mengadakan kegiatan yang mempertemukan pasangan muda-mudi Katolik guna mencegah perkawinan beda agama dan mempertemukan jodoh seiman.

Sementara Mayong Suryo Laksono berpesan, berusàhalah untuk mengantisipasi lebih awal akan terjadinya perkawinan dan jangan memerosokkan din lebih dalam. “Berusahalah untuk mengurangi perbedaan tersebut dengan mencari pasangan yang seiman,” tukasnya.

Panjikristo/HIDUP 3 Mei 2009




01 SDGGKK1.jpg
  

01 SDGGKK2.jpg
  

1 seminar GGKK DS.jpg
  


yogahart wrote on May 6, '09
(Sangat) tidak mudah bisa menjalani hidup perkawinan dengan pasangan yg tidak seiman tanpa ada benturan dan tantangan. Mereka yg berhasil menjalaninya , pasti sudah punya kesiapan yg matang.
Karena itulah , tetap lebih diharapkan menikah dengan yg seiman.
mariariri wrote on May 6, '09, edited on May 6, '09
Iya, idealnya memang seiman.. tp kadang koq susyah ya..?

Perkawinan beda agama pernah dialami keluargaku. Ayah ibuku menikah secara katolik tp ayahku tetep pada agamanya. Saat masih kecil, aku n adik2 ga maksimal dididik secara katolik coz mama sungkan ma keluarga besar ayahku.. so aku cuma belajar agama di sekolah sminggu sekali n ke Gereja ala kadarnya ( aku baru ikut sekolah minggu klas 5 SD n dibaptis kelas 1 SMP). Tp, dgn Berkat Tuhan... akhirnya pas aku kelas 2 SMP, ayahku ikut katekumen n setahun kemudian Papa dibabtis. Dgn baptisnya Papa, hubungan keluargaku ma Keluarga besar Papa jd renggang n mpe skr hubungan itu ga bisa sedekat dulu ( walo udah baik).

Aku bisa merasakan, perbedaan dlm sebuah keluarga tuh merupakan PR yg ga mudah n perlu kematangan, perjuangan n tenggang rasa yg luar biasa
yogahart wrote on May 6, '09
Tapi yg positifnya dari Papa Riri , berani menentukan pilihan meski berakibat hubungan dengan keluarga besarnya merenggang.
Dan menurut aku , hubungan didalam keluarga inti (ayah , ibu dan anak) lah yg utama , baru kemudian keluarga besar.
mariariri wrote on May 6, '09
Tapi yg positifnya dari Papa Riri , berani menentukan pilihan meski berakibat hubungan dengan keluarga besarnya merenggang.
Dan menurut aku , hubungan didalam keluarga inti (ayah , ibu dan anak) lah yg utama , baru kemudian keluarga besar.
Iya maz Yoga, secara kakek nenekku jg beragama di KTP aja ( kejawen kaleee).. n buat mereka yg penting di dunia adalah hidup baik. Tp, renggangnya hub ma keluarga besar kakek nenekku ( yg notabene pada menjalankan kewajibannya dgn maks )... dirasakan keluargaku seperti anak tiri aja hehehehe.. Skr dah berhubungan baik.. tp terasa kalo sekat itu masih ada. Ga diajak arisan keluarga, ato acara2 di rumah kerabat kakek nenk di luar kota :)
panjikristo wrote on May 7, '09
Kejadian atau pengalaman kita di dunia akan selalu ada hikmahnya. Segala sesuatu mempunyai maksud dan arti. Sejauh mana kita peka akan karya penyelenggaraan Ilahi. Ketika papa Riri menikah, itu mungkin sudah merupakan jalan Tuhan yang seringkali tidak kita mengerti pada awalnya. Seperti Riri yang akhirnya mau di baptis, itu merupakan suatu karunia dan misteri tersendiri. Jalani yang telah ada (Ada juga sih yang bilang, itu sudah digariskan oleh Tuhan). Sang Junjungan kita pernah berkata bahwa kita akan berseteru dengan keluarga dalam namaNya (sy lp ayatnya). Cepat atau lambat segala sesuatu akan berjalan ke arah yang lebih baik, jika kita tetap berpegang padaNya.
mariariri wrote on May 7, '09
Yups, hidup adalah sebuah misteri :)
awsmile wrote on May 8, '09
Daku setuju jika seiman itu akan memperkecil pergesekan yg mungkin akan menimbulkan keretakan atau perpecahan dalam sebuah keluarga. Yg pasti dalam sebuah kehidupan rumah tangga, komunikasi itu penting ... bagaimana satu orang bisa berbicara dgn pasangannya & pasangannya mendengarkan, demi kian juga sebaliknya. Dan hal ini perlu campur tangan Tuhan dan keterbukaan jiwa kita agar Tuhan mengatur hal ini.
panjikristo wrote on May 8, '09
Dengan bahasa dan iman yang sama maka komunikasi tersebut akan lebih mudah tercipta. GBU
Add a Comment